1. Home
  2. »
  3. VAKSIN HPV (KANKER...
  4. »
  5. VAKSIN KANKER SERVIKS...

vaksin hpv dan kehamilan

vaksin hpv dan kehamilan

 

   Selain masalah biaya dan menunggu habis menikah, alasan yang satu ini mungkin bisa jadi merupakan alasan ketiga tersering untuk vaksin kanker serviks yang saya temui selama ini. Biasanya mereka akan bilang “wah saya lagi mau program hamil lagi nih, besok aja deh kalau udah lahiran”. Bahkan alasan ini muncul dari rekan sejawat. Yang lebih parah lagi rekan sejawat ini menyatakan demikian setelah mendapat masukan dari rekan sejawat yang lebih ahli. Jika sudah seperti ini, saya yakin Indonesia masih jauh dari kata menurunkan angka kejadian kanker serviks.

Artikel terkait : TANYA JAWAB VAKSIN HPV (KANKER SERVIKS)

   Saat menjelaskan kepada orang-orang yang diluar profesi medis, saya bisa menjelaskan dengan perlahan dan penuh kesabaran. Tapi ketika menjelaskan kepada rekan sejawat, apalagi yang lebih senior, kadang butuh lebih dari satu white flag. Justru inilah tantangannya, karena sering ketika kita mengajak kebaikan justru penolakannya lebih dahsyat dibanding mengajak sebaliknya.

Artikel terkait: VAKSIN KANKER SERVIKS (HPV) DI JOGJA, PERLUKAH?

   Untuk itulah saya butuh sumber referensi yang cukup kuat untuk meyakinkan mereka. Saya baru ingat kalau ada sumber referensi yang sangat bagus untuk menjawab pertanyaan tersebut, yaitu sebuah jurnal yang berjudul “Pregnancy and Infant Outcomes in the Clinical Trials of a Human Papillomavirus Type 6/11/16/18 Vaccine : A Combined Analysis of Five Randomized Controlled Trials” dengan Suzanne M. Garland dkk sebagai author.

   Penelitian ini adalah gabungan 5 RCT (RCT adalah salah satu jenis penelitian tertinggi dalam dunia medis) yang dilakukan saat trial fase III vaksin HPV 4 strain yaitu strain HPV 6, 11, 16, dan 18. Apa itu trial fase III? Trial fase III adalah fase percobaan terakhir sebelum akhirnya sebuah vaksin bisa dilisensi dan didistribusikan ke masyarakat umum. Penelitian melibatkan hingga 20.551 wanita usia 15 sampai dengan 45 tahun. Setelah itu wanita-wanita tersebut dibagi ke dalam 2 grup dimana grup pertama yang menerima vaksin HPV dan yang satunya diberikan suntikan placebo (maksudnya adalah hanya suntikan yang tidak memiliki efek apa pun pada tubuh). Jika penerima suntikan kemudian hamil, status kehamilan mereka akan dicatat terus hingga bayi lahir dan dilihat kondisi bayi tersebut.

   Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan (bermakna) antara kelompok wanita yang menerima vaksin HPV dan yang menerima placebo dalam hal jumlah kehamilan (maksudnya penerima vaksin HPV tetap akan bisa hamil seperti halnya orang normal),  kematian janin, atau aborsi spontan, dan bayi lahir cacat. Jadi tidak ada kaitan sama sekali vaksin HPV dengan kehamilan yang baru akan direncanakan. Tetapi perlu diingat bahwa vaksin ini tidak direkomendasikan saat hamil, bukan karena berbahaya tetapi belum cukup penelitian yang menyatakan keamanan vaksin ini pada saat hamil, sehingga ketika sedang program vaksin kemudian hamil di tengah jalan, maka sebaiknya melengkapi dosis setelah persalinan dan tidak perlu mengulang dosis dari awal.

   Untuk para sejawat saya sediakan script asli penelitian tersebut yang bisa diunduh pada link di bawah ini:

Pregnancy and Infant Outcomes in the.pdf