Header-fix-2

  1. Home
  2. »
  3. VAKSIN HPV (KANKER...
  4. »
  5. Tetap Terlindungi dengan...

Vaksinasi HPV saat kemoterapi

Vaksinasi HPV saat kemoterapi

Berbagai kondisi khusus yang bisa jadi mempengaruhi kapasitas seseorang dalam mendapatkan imunisasi HPV (Human Papillomavirus) mungkin saja ditemui oleh siapapun, contohnya vaksinasi HPV saat kemoterapi. Kemoterapi yang umumnya diindikasikan pada seseorang yang mengalami penyakit keganasan atau kanker dapat menyebabkan suatu kondisi yang dinamakan imunosupresi. Apa yang dimaksud dengan imunosupresi? Bolehkah pasien-pasien yang sedang melakukan kemoterapi, mendapatkan juga vaksin HPV? Simak lebih lanjut bahasannya dibawah ini!

Artikel terkait : BEDA VAKSIN HPV CERVARIX DAN GARDASIL

Sempat disinggung diawal mengenai kondisi khusus pada seseorang yang mendapatkan kemoterapi, yaitu kondisi imunosupresi. Sesuai dengan namanya, kondisi imunosupresi adalah kondisi dimana sistem imunitas atau kekebalan tubuh berada dalam kondisi lemah atau dilemahkan akibat berbagai hal, sehingga imunitas tubuh kita tidak dapat bekerja seperti umumnya dalam melawan berbagai agen penyakit yang mungkin menyerang kita. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hal ini antara lain, infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan kemoterapi pada pasien kanker. Kemoterapi dapat menyebabkan imunodefisiensi karena sifatnya yang merusak atau membasmi tidak hanya kepada sel kankernya, tetapi juga sel sehat termasuk sel imun.2

Pada kondisi semacam ini, pemberian imunisasi memiliki pertimbangan tersendiri. Apakah pemberian vaksin HPV ini tetap menjadi media pelindung atau justru membahayakan bagi pasien kemoterapi? Tentu syarat dan ketentuan berlaku. Pertama, boleh tidaknya sebuah vaksin diberikan kepada pasien-pasien ini adalah berdasarkan pada jenis vaksin. Secara garis besar, vaksin terbagi menjadi 2 jenis, yakni vaksin yang terdiri dari virus atau bakteri yang dilemahkan, dikenal dengan istilah live attenuated vaccine atau replicating vaccine dan vaksin yang hanya mengandung antibodi atau partikel tertentu dari agen penyakit yang ditargetkan, atau dikenal juga dengan non-replicating vaccine.2

Imunisasi yang termasuk live attenuated vaccines seperti MMR, varicella, influenza, rotavirus, Yellow fever, pemberiannya hanya boleh dilakukan setidaknya 4 minggu sebelum kemoterapi dimulai atau jika kemoterapi sudah berjalan, maka vaksin boleh diberikan 3 bulan setelah selesai rangkaian pengobatan kemoterapi. Sedikit berbeda dengan vaksin inaktif, vaksin non-replicating ini memiliki syarat yang relatif lebih ringan, dimana vaksinasi dapat diberikan setidaknya dua minggu sebelum kemoterapi dimulai untuk memberikan proteksi maksimal terhadap penyakit yang akan dilindungi. Akan tetapi, tidak ada larangan pemberian vaksin selama kemoterapi meskipun efektivitasnya dalam membentuk perlindungan tubuh akan berkurang. Adapun yang termasuk ke dalam jenis vaksin ini adalah Haemophilus influenza type b (Hib), Pneumococcal, Meningococcal, Hepatitis B dan HPV.

Jadi, oleh karena jenis vaksin HPV yang dalam bahan pembentuknya tidak mengandung virus yang dilemahkan tetapi hanya mengandung sebagian kecil partikel virusnya, maka tidak ada larangan bagi seseorang yang sedang menjalani kemoterapi untuk mendapatkan vaksinasi HPV. Hanya saja menurut beberapa penelitian, salah satunya studi oleh dr. Levin, ada kemungkinan imunitas yang terbentuk pada golongan ini tidak sekuat apabila divaksinasi dalam kondisi normal tanpa imunosupresi.4 Hal serupa disimpulkan juga oleh beberapa peneliti dari Australia, dr. Garland dan rekannya bahwa titer antibobi yang terbentuk pada pasien-pasien dengan kelainan imunosupresi akan lebih rendah dari manusia normal.5 Perlukah kita khawatir? Tidak! Justru vaksin HPV ini diperlukan untuk melindungi karena faktanya resiko infeksi HPV menjadi keganasan lebih besar pada seseorang dengan immunosupresi. Untuk survival kanker pun, pemberian vaksin HPV ini sangat dianjurkan dengan alasan perlindungan.6 Yuk, konsultasikan keadaan anda dan dapatkan vaksin HPV-nya sekarang juga dengan dokter ahli kami!

 

Daftar Pustaka

  1. Gorski D. CAM use and chemotherapy: a negative correlation. Diakses dari: https://sciencebasedmedicine.org/cam-use-and-chemotherapy-a-negative-correlation/. Tanggal 25 Februari 2019.
  2. Ariza-Heredia EJ, Chemaly RF. Practical review of immunizations in adult patients with cancer. Hum Vaccin Immunother. 2015;11(11):2606-14.
  3. Markowitz LE, Dunne EF, Saraiya M, Chesson HW, Curtis CR, Gee J, Bocchini JA Jr, Unger ER; Centers for Disease Control and Prevention (CDC) . Human papillomavirus vaccination: recommendations of the advisory committee on immunization practices (ACIP). MMWR Recomm Rep2014; 63:1-30;
  4. Levin MJ, Moscicki AB, Song LY, Fenton T, Meyer WA 3rd, Read JS, Handelsman EL, Nowak B, Sattler CA, Saah A, et al. Safety and immunogenicity of a quadrivalent human papillomavirus (types 6, 11, 16, and 18) vaccine in HIV-infected children 7 to 12 years old. J Acquired Immune Deficiency Syndrom. 2010; 55:197-204; PMID:20574412
  5. Garland SM, Botherton JML, Moscicki AB, Kaufman AM, Stanley M, Bathla N, et al. HPV vaccination of immunocompromised host. DOI: https://dx.doi.org/10.1016%2Fj.pvr.2017.06.002. Tanggal 25 Februari 2019
  6. Klosky JL, Gamble HL, Spunt SL, Randolph-Fyre M, Green DM, Hudson MM, Human papillomavirus vaccination in survivor of childhood cancer.

Artikel terkait: DAFTAR HARGA VAKSIN / BIAYA IMUNISASI KLINIK VAKSINASI RAISHA