PERTANYAAN SEPUTAR VAKSIN ANTI MENINGITIS, INFLUENZA, DAN PNEUMONIA UNTUK JAMAAH HAJI

kartu kuning

kartu kuning

 

Beberapa hari ini kami disibukkan dengan penyediaan vaksin influenza jamaah haji Yogyakarta. Meskipun beberapa daerah sudah melakukan vaksinasi secara terprogram, tetapi masih banyak jamaah yang belum mendapatkan vaksin influenza, terutama jamaah dari Sleman.
Perlunya vaksin influenza ini disampaikan oleh pihak-pihak penyelenggara haji. Yang menjadi masalah adalah, belum banyak yang tahu mengenai vaksin pneumonia. Padahal vaksin untuk haji ini sebenarnya ada 3, dimana salah satunya bersifat wajib sebagai syarat dikeluarkannya International Certificate of Vaccination (ICV) atau lebih dikenal dengan Kartu Kuning. Sedangkan dua vaksin sisanya juga direkomendasikan oleh pihak Kementerian Kesehatan Arab Saudi yaitu vaksin influenza dan vaksin pneumonia.
Pada kesempatan kali ini akan saya bahas beberapa pertanyaan mengenai vaksin influenza dan pneumonia yang sering diajukan oleh para jamaah haji yang saya temui selama ini.

 

1. Untuk apa vaksin influenza? Bukankah flu itu tidak berbahaya?

Di luar negeri, ada dua istilah flu yang harus kita pahami, yaitu common cold dan influenza. Sedangkan di Indonesia kita hanya mengenal istilah flu. Common cold bersifat lebih ringan dibanding influenza, dimana pasien masih bisa beraktivitas meskipun hidung tersumbat atau beringus. Sedangkan influenza sendiri bersifat berat, dan kadang pasien harus bed rest ketika menderita penyakit ini. Hal ini sering bersifat fatal pada bayi, janin, dan lansia karena dapat mengakibatkan kematian. Pada orang dewasa, penyakit ini cenderung mengakibatkan pasien harus istirahat total karena pasien merasa sangat lemah. Hal ini tentunya tidak diinginkan oleh para calon jamaah haji karena dapat mengganggu berlangsungnya ibadah haji.
Yang perlu dipahami adalah bahwa vaksin influenza tidak mencegah kejadian influenza 100%. Vaksin ini memiliki proteksi terhadap influenza sekitar 50%. Vaksin ini tidak mencegah flu akibat kuman lainnya sepeti adenovirus, streptokokus, dll.
Penelitian yang dilakukan oleh dr.Mukhtar Ikhsan, SpP(K) dari FK-UI (2004-2005) terhadap 1039 orang dewasa menunjukkan bahwa seseorang yang tidak di vaksinasi Influenza beresiko 2 kali lebih besar terinfeksi dibanding yang telah divaksinasi Influenza.

 

2. Kenapa jenis vaksin pneumonia berbeda-beda? Kenapa ada yang mahal dan ada yang murah? Apa bedanya?

Vaksin pneumonia (lebih tepatnya vaksin pneumokokus) ada 2 jenis. Yang pertama adalah vaksin generasi terdahulu ang disebut sebagai vaksin polisakarid (PPSV). Kelebihan vaksin ini adalah memiliki 23 strain bakteri yang terkandung di dalamnya (PPSV23) dan juga harganya relatif lebih murah dibanding vaksin konjugat. Sedangkan kelemahannya adalah penyerapannya tidak sebagus vaksin konjugat, khususnya pada anak < 5 tahun dan usia > 55 tahun. Pada orang dewsa normal, penyerapan vaksin ini ke tubuh tidak jauh berbeda dengan vaksin konjugat, sehingga pada orang dewasa bisa menggunakan vaksin ini.
Yang kedua adalah vaksin generasi terbaru yang disebut vaksin konjugat (PCV). Kelebihan vaksin ini adalah penyerapannya yang lebih bagus dibanding vaksin polisakarid, sehingga cocok digunakan pada anak 55 tahun dimana respon imun mereka tidak sebagus pada orang dewasa dalam memproses antigen. Kelemahannya adalah jumlah strain bakeri yang dikandungnya lebih sedikit yaitu 10 atau 13 tergantung dari jenis vaksinnya PCV10 atau PCV13. Kelemahan lainnya adalah vaksin ini relatif lebih mahal dibanding vaksin polisakarid, dimana PCV10 harganya hampir 2x lipat PPSV23, dan PCV13 harganya hampir 3x lipat PPSV23.
Sebagai informasi tambahan, vaksin anti pneumonia (Pnemo23TM) secara efektif menurunkan 83% risiko pneumonia pada jamaah haji Malaysia menurut penelitian di Malaysia.

 

3. Setelah berapa hari efek proteksi vaksin tersebut baru muncul?
Efek proteksi sebuah vaksin muncul minimal 10 hari setelah vaksinasi, sehingga diharapkan jamaah sudah menyelesaikan seluruh vaksinasi 10 hari sebelum keberangkatan.

 

4. Jika diberikan 3 vaksin dalam waktu berekatan apakah berbahaya?
Ketiga vaksin yang disebutkan di atas adalah jenis vaksin dari kuman yang telah mati, sehingga pemberian bersamaan sangat jarang akan menyebabkan masalah yang serius. Khusus untuk vaksin influenza yang diberikan bersamaan dengan vaksin PCV, resiko demam akan meningkat tetapi sifatnya sementara. Pemberian vaksin influenza bersamaan dengan PPSV belum terdapat bukti akan meningkatkan resiko demam, tetapi berdasar pengalaman kami pribadi, pemberian kedua vaksin tersebut secara bersamaan meningkatkan resiko demam pada orang dewasa, sehingga biasanya kami menyarankan untuk memberikan jarak pemberian antara kedua vaksin tersebut.

 

5. Jika setelah vaksin saya demam atau nyeri pada daerah bekas tempat suntikan bagaimana?
Anda bisa menggunakanobat turun panas seperti paracetamol untuk meredakan demam, dan gunakan obat anti nyeri seperti asam mefenamat untuk mengurangi badan ngilu-ngilu yang berlebihan dan nyeri pada tempat suntikan. Anda juga bisa mengompres dingin pada bagian bekas suntikan yang nyeri.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar masalah vaksin, silahkan kirimkan pertanyaan Anda ke sini. Kami akan coba membantu Anda semaksimal mungkin.

Artikel terkait: DAFTAR HARGA VAKSIN / BIAYA IMUNISASI KLINIK VAKSINASI RAISHA