Header-fix-2

Gumoh pasca vaksin rotavirus

Gumoh pasca vaksin rotavirus

Berbicara mengenai sekian banyak vaksinasi yang dapat kita berikan kepada sang buah hati serta efek samping yang dapat muncul, gumoh pasca vaksin rotavirus menjadi salah satu yang cukup sering ditemukan. Faktanya gumoh atau yang dikenal dengan istilah medis regurgitasi ini, sering kali menjadi momok menakutkan bagi para orangtua, terutama mengingat usia anak yang menerima vaksin rotavirus relatif masih sangat muda. Kapankah para orangtua “boleh” khawatir bila anaknya gumoh atau bahkan muntah? Apa yang harus dilakukan pada saat itu?

Artikel terkait : PERNYATAAN INFORMASI MENGENAI VAKSIN ROTAVIRUS

Perlu kita ingat bahwa infeksi rotavirus umumnya menyebabkan gejala gastrointestinal seperti diare dan muntah yang dapat menyebabkan dehidrasi berat hingga menyebabkan kematian. Maka hal ini perlu dicegah dengan memberikan vaksin rotavirus kepada anak. Imunisasi rotavirus ini menggunakan virus yang dilemahkan sebagai bahan bakunya untuk membentuk kekebalan tubuh. “Apakah gumoh itu wajar setelah vaksin rotavirus?” adalah hal pertama yang umumnya terlintas di pikiran para ayah dan ibu. Ternyata, baik gumoh ataupun muntah adalah efek samping yang umum ditemukan pada semua anak yang menerima vaksin ini. Gumoh umumnya hanya berlangsung sebentar saja tak lebih dari beberapa hari) dan dengan jumlah yang kecil. Data yang dikumpulkan dari berbagai uji klinis vaksin rotavirus menyebutkan bahwa gumoh atau muntah pasca vaksinasi terjadi sekitar 1.3% lebih tinggi dibandingkan yang hanya diberikan vaksinasi kosong atau placebo (6.7% versus 5.4%).2 Dengan kata lain, gumoh pada anak setelah vaksin rotavirus adalah hal yang umum dan wajar ditemukan.

Mekanisme kejadian gumoh atau pun muntah pada anak pasca imunisasi rotavirus, belum diketahui secara pasti. Namun, salah satu teori mengatakan bahwa mungkin partikel-partikel sel di dalam vaksin menginduksi sel – sel yang terdapat di bagian mukosa saluran pencernaan (enterochromaffin cell) untuk mengeluarkan zat – zat (misalnya 5-hydroxytryptamine) yang memicu aktifnya respon muntah dalam tubuh.3

Kapankah gumoh setelah vaksinasi rotavirus itu berbahaya? Regurgitasi setelah vaksinasi rotavirus dapat menjadi berbahaya bila terus berlanjut selama berhari-hari atau dengan frekuensi yang sering dan jumlah yang banyak sampai sang anak tidak mendapatkan asupan cairan cukup, atau kondisi yang sering kita kenal dengan dehidrasi.4 Dalam kondisi ini artinya anak tidak sekedar mengeluarkan makanan sedikit namun adanya tekanan dari perut sehingga mengalami muntah yang banyak. Kondisi penting genting lain yang harus diketahui adalah, ada jenis muntah tertentu yang dapat menjadi satu penanda kondisi yang cukup berbahaya pada anak, yaitu bilious vomiting atau muntah berwarna kuning-kehijauan yang seringkali cair. Bila muntah seperti ini muncul pada anak kita, hal pertama yang wajib dilakukan adalah segera membawanya ke dokter sesegera mungkin karena ini dapat menjadi tanda kemunculan intususepsi, yakni kondisi dimana usus kecil terlipat dan menyusup kedalam rongga usus. Untungnya, salah satu efek samping berat ini hanya terjadi sekitar 1 dari 100.000 kali vaksinasi sehingga termasuk kejadian yang tidak terlalu sering.5

Jika terjadi gumoh, tidak perlu khawatir. Posisikan bayi anda tegak, segera ganti bajunya jika basah agar anak menjadi nyaman. Segera berikan ASI atau susu jika bayi lapar, karena apabila bayi menangis lama karena menunggu maka akan banyak udara yang masuk ke lambungnya dan hal ini meningkatkan resiko gumoh pada anak. Sebaiknya tidak memposisikan anak tiduran saat memberikannya susu atau ASI.

Gumoh pada bayi pasca vaksin rotavirus adalah hal wajar yang sering ditemukan dan umumnya berlangsung sebentar. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memberikan anak anda vaksinasi rotavirus!

 

Daftar Pustaka

  1. Living and Livinf Magazine. Vomiting after breastfeeding – when to be concerned. Diakses dari https://www.livingandloving.co.za/baby-blog/vomiting-breastfeeding-concerned. Tanggal 14 Maret 2019.
  2. Dennehy PH. Rotavirus vaccine: overview. DOI: 1128/CMR.00029-07. Tanggal 13 Maret 2019.
  3. Hagbom M. Rotavirus disease mechanisms dirrhea, vomiting and inflamation – how and why. Diakses dari http://liu.diva-portal.org/smash/get/diva2:811743/FULLTEXT01.pdf. Tanggal 14 Maret 2019.
  4. Amrstrong C. AAP updates guideline on rotavirus vaccination. Diakses dai https://www.aafp.org/afp/2010/0215/p552.html. Tanggal 13 Maret 2019.
  5. Rotavirus VIS. Diakses dari https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/rotavirus.html. Tanggal 13 Maret 2019.

Artikel terkait: DAFTAR HARGA VAKSIN / BIAYA IMUNISASI KLINIK VAKSINASI RAISHA