1. Home
  2. »
  3. POSTING
  4. »
  5. JADWAL IMUNISASI VAKSINASI
  6. »
  7. Jadwal Imunisasi IDAI...
Gambar 1. Urutan imunisasi anak berdasarkan rekomendasi IDAI tahun 2020

Gambar 1. Urutan imunisasi anak berdasarkan rekomendasi IDAI tahun 2020

Pertengahan bulan Desember 2020, Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mempublikasikan rekomendasi baru tentang jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun. Jadwal imunisasi IDAI 2020 ini menggantikan jadwal imunisasi 2017 yang sebelumnya dipakai. Secara umum rekomendasi jadwal imunisasi yang baru ini tidak banyak merubah pola jadwal, namun ada banyak poin-poin keterangan yang berubah misalnya mengenai dosis, frekuensi, dan batas usia anak yang paling optimal untuk memperoleh vaksin. Jadwal imunisasi anak umur 0-18 tahun menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2020 ditampilkan pada gambar berikut

Gambar 2. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 sampai dengan 18 tahun berdasarkan rekomendasi IDAI tahun 2020

Gambar 2. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 sampai dengan 18 tahun berdasarkan rekomendasi IDAI tahun 2020

Keterangan Tabel

  • Cara membaca kolom usia : misal 2 berarti usia 2 bulan (60 hari) s.d. 2 bulan 29 hari (89 hari)
  • Rekomendasi imunisasi berlaku setelah diterbitkan di Sari Pediatri. Dapat diakses pada website IDAI (http:// idai.or.id/publicarticles/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-anak-idai.html)
  • Keterangan warna tabel adalah sebagai berikut :

WARNA TABEL

Setelah membaca tabel jadwal imunisasi tersebut, kita pasti bertanya-tanya. Total ada 15 vaksin yang direkomendasikan IDAI, namun apa bedanya jadwal imunisasi 2020 dengan jadwal imunisasi 2017? Penjelasan mengenai masing-masing vaksin yang direkomendasikan oleh IDAI tahun 2020 beserta perubahannya adalah sebagai berikut:

 

  1. Imunisasi Hepatitis B (HB)

Imunisasi Hepatitis B bertujuan untuk memberikan perlindungan dan mengurangi resiko terjadinya penyakit hati (liver) kronis dan kanker hati. Idealnya vaksin hepatitis B ini diberikan pada bayi segera setelah lahir yang didahului penyuntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya. Jika berat badan bayi cukup dan kondisi bugar, vaksin hepatitis B diberikan sebelum bayi berumur 24 jam, namun bayi dengan berat lahir kurang dari 2000 g, imunisasi hepatitis B sebaiknya ditunda sampai berumur 1 bulan atau lebih.

Pada kasus bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, imunisasi hepatitis B diberikan segera setelah lahir dan diberikan imunoglobulin hepatitis B (HBIg) pada ekstremitas yang berbeda. Pemberian vaksin dan imunoglobulin Hepatitis B diberikan maksimal dalam 7 hari setelah lahir, namun tidak dihitung sebagai vaksin hepatitis B dosis primer.

Jadwal imunisasi ini sedikit berbeda dengan rekomendasi IDAI tahun 2017 yang menyatakan imunisasi hepatitis B paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir. Menurut rekomendasi IDAI tahun 2020, vaksin diberikan segera setelah lahir sebelum berumur 24 jam. Perubahan ini sesuai dengan rekomendasi WHO position paper on Hepatitis B Vaccines. Bayi-bayi yang tidak mendapat vaksin hepatitis B pada waktu lahir, berisiko 3,5 kali lipat lebih besar. Setelah itu imunisasi hepatitis B diulang pada usia 2,3,4, dan 18 bulan. Tambahan imunisasi hepatitis B pada usia 18 bulan ini bermanfaat untuk menghasilkan perlindungan terhadap virus hepatitis B pada usia sekolah dan remaja.

 

  1. Imunisasi Polio

Penyakit Polio adalah penyakit lumpuh layu yang disebabkan oleh virus Polio liar yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian. Infeksi virus polio dapat dicegah dengan program imunisasi. Ada 2 jenis vaksin polio yaitu bOPV (bivalen Oral Polio Vaccine) yang cara pemberiannya dengan cara diteteskan pada mulut dan IPV (Inactivated Polio Vaccine) yang cara pemberiannya dengan cara disuntikkan. Vaksin polio pertama kali diberikan segera setelah lahir dalam bentuk bOPV, yaitu saat bayi akan pulang dari fasilitas layanan kesehatan, atau bisa juga pada saat kunjungan pertama (kontrol bayi baru lahir). Selanjutnya vaksin polio (bOPV atau IPV) diberikan pada usia 2,3,4, dan 18 bulan. Vaksin IPV minimal diberikan 2 kali sebelum berumur 1 tahun.

Jadwal imunisasi 2017 dinyatakan bahwa IPV paling sedikit diberikan 1 kali bersama OPV-3, sedangkan pada jadwal imunisasi 2020, IPV minimal diberikan 2 kali sebelum berumur 1 tahun. Penambahan jumlah minimal IPV yang harus diberikan ini dimaksudkan untuk menghasilkan perlindungan lebih tinggi terhadap virus polio serotipe-2 yang tidak terdapat pada bOPV. Khusus Daerah Istimewa Yogyakarta, imunisasi polio hanya menggunakan IPV (polio suntik) dan tidak lagi menggunakan bOPV (polio tetes). Pemberian IPV di fasilitas kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta dilakukan pada bayi usia 2,3, dan 4 bulan kemudian booster saat usia 18 bulan.

 

  1. Imunisasi Tuberkulosis (BCG)

Tuberkulosis merupakan penyakit yang ditimbulkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit tuberkulosis ini umumnya menyerang sistem pernafasan dalam jangka waktu yang lama dan memerlukan pengobatan minimal 6 bulan. Penyakit tuberkulosis pada anak dapat dicegah dengan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerine). Vaksin BCG ini sebaiknya diberikan sesegera mungkin sebelum bayi berumur 1 bulan. Bila saat berumur 3 bulan bayi belum mendapat imunisasi BCG, harus dilakukan uji tuberkulin (tes mantoux) terlebih dahulu. Jika hasil tuberkulin negatif atau jika uji tuberkulin tidak tersedia, BCG dapat diberikan. Namun perlu diperhatikan bila pada minggu pertama setelah disuntikkan timbul reaksi pada anak, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk diagnosis tuberkulosis.

Pada rekomendasi IDAI tahun 2017, vaksin BCG optimal diberikan sebelum usia 2 bulan, sedangkan pada rekomendasi IDAI tahun 2020, vaksin BCG diberikan segera setelah lahir sebelum berumur 1 bulan. Perubahan ini berdasarkan rekomendasi WHO position paper BCG vaccine 2018 yang menyatakan bahwa negara dengan kejadian tuberkulosis tinggi, BCG diberikan pada bayi segera setelah lahir. Pemberian imunisasi BCG segera setelah lahir dapat memberikan perlindungan 82% terhadap penyakit tuberkulosis paru.

 

  1. Imunisasi Difteri, Tetanus, Pertusis (DTP)

Pemberian Vaksin DTP dapat melindungi anak dari penyakit difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan). Biasanya di puskesmas pemberian DTP ini dalam bentuk vaksin pentavalent (DTP, HiB, Hep-B), selain itu adapula bentuk vaksin hexavalent (DTP, HiB, Hep-B, IPV).

Vaksin DTP ini dapat diberikan mulai umur 6 minggu. Jika mengacu pada rekomendasi jadwal imunisasi, diberikan saat anak berusia 2, 4, 6, dan 18 bulan, kemudian vaksin DTP diberikan lagi saat anak berusia 5-7 tahun (program BIAS kelas 1 SD). Selanjutnya pada umur 10–18 tahun diberikan vaksin Td atau Tdap (program BIAS kelas 5 SD). Kemudian Booster Td diberikan setiap 10 tahun.

Tidak banyak perubahan antara jadwal imunisasi 2017 dengan jadwal imunisasi 2020. Pada jadwal imunisasi 2017, booster DTP diberikan pada usia 5 tahun, sedangkan di jadwal imunisasi 2020 pada usia 5-7 tahun. Pada praktiknya, rekomendasi ini sudah diterapkan sesuai dengan Permenkes No.12 tahun 2017 dalam program BIAS kelas 1 SD.

 

  1. Imunisasi HiB

Haemophillus influenza B merupakan bakteri penyebab pneumonia (radang paru) dan meningitis (radang selaput otak). Infeksi bakteri Haemophillus influenza B dapat dicegah dengan imunisasi saat anak berusia 2,3,4, dan 18 bulan. Vaksin HiB ini bisa diberikan bersamaan dengan vaksin Hepatitis B dan DPT (pentavalent). Di dalam jadwal imunisasi tahun 2017, booster HiB diberikan pada usia 15-18 bulan, sedangkan di dalam jadwal 2020 diberikan pada usia 18 bulan. Pada praktiknya jadwal imunisasi 2020 ini sudah diterapkan sesuai dengan Permenkes No. 12 tahun 2017.

 

  1. Imunisasi Pneumokokus

Bakteri Streptococcus pneumoniae atau disebut pneumokokus merupakan bakteri penyebab pneumonia (radang paru) dan meningitis (radang selaput otak). Infeksi bakteru pneumokokus dapat dicegah dengan Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV). Meskipun belum semua daerah memiliki program vaksinasi PCV di puskesmas, bukan berarti vaksin ini tidak penting. Vaksin PCV sangat direkomendasikan diberikan pada anak terutama pada masa pandemi seperti ini untuk mencegah pneumonia.

Vaksin pneumokokus (PCV) diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan dan dilanjutkan dengan booster pada usia 12-15 bulan. Namun Jika anak pada usia 7-12 bulan belum divaksin, maka PCV dapat diberikan 2 kali dengan jarak 1 bulan dan dilanjutkan booster setelah umur 12 bulan dengan jarak 2 bulan dari dosis sebelumnya. Jika anak usia 1-2 tahun belum divaksin, maka PCV dapat diberikan 2 kali dengan jarak minimal 2 bulan. Sedangkan Jika anak saat berusia 2-5 tahun belum divaksin, maka PCV dapat diberikan 2 kali dengan jarak 2 bulan (jika menggunakan PCV-10) atau cukup diberikan 1 kali saja (jika menggunakan PCV-13)

Ada beberapa perbedaan dengan rekomendasi IDAI tahun 2017. Perubahan pada rekomendasi IDAI tahun 2020 mengikuti perkembangan uji klinik yang menyatakan tingkat seropositif paling optimal didapatkan dengan dosis pemberian 3p+1 (usia 2,4,6 ditambah booster saat usia 12-15 bulan).

.

  1. Imunisasi Rotavirus

Rotavirus merupakan penyebab tersering diare pada anak, dan menurut penelitian mulai bisa menyerang bayi saat usia 6 minggu. Kejadian diare akibat rotavirus banyak terjadi baik di daerah yang memiliki lingkungan kotor maupun bersih. Pencegahan terhadap rotavirus tidak cukup hanya dengan memperhatikan higienitas, namun perlu dengan imunisasi.

Ada 2 jenis vaksin rotavirus yaitu vaksin rotavirus monovalen (RV1) dan vaksin rotavirus pentavalen (RV5). Keduanya sama-sama baik dalam mencegah infeksi rotavirus, namun ada perbedaan dalam frekuensi dosisnya. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama mulai usia 6 minggu, kemudian dosis kedua diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Vaksin rotavirus monovalen harus selesai 2 dosis pada usia 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali, dosis pertama pada usia 6-12 minhhu, kemudian dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen harus selesai 3 dosis pada usia 32 minggu.

Dibandingkan jadwal imunisasi 2017, jadwal imunisasi 2020 tidak ada perbedaan frekuensi dosis vaksin namun jadwal pemberian vaksin cenderung lebih awal. Jika anak terlambat tidak diberikan vaksin rotavirus dalam rentang waktu yang direkomendasikan, maka tidak bisa dilakukan catch up (kejar imunisasi) seperti yang bisa dilakukan oleh imunisasi lainnya.

 

  1. Imunisasi Influenza

Influenza merupakan penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus influenza. Vaksin Influenza sangat direkomendasikan diberikan pada anak terutama pada masa pandemi seperti ini untuk mencegah infeksi saluran pernafasan. Vaksin influenza mengandung virus yang tidak aktif (inactivated influenza virus)

Vaksin influenza diberikan mulai umur 6 bulan. Pada anak dengan usia 6 bulan sampai 8 tahun imunisasi pertama 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu. Sedangkan anak yang belum pernah mendapat imunisasi influenza pada saat usia >9 tahun, maka vaksin influenza pertama cukup 1 dosis. Untuk menjaga agar daya proteksi berlangsung terus-menerus, maka perlu dilakukan vaksinasi secara teratur setiap tahun satu kali.

 

  1. Imunisasi Campak dan Rubella

Ada 2 jenis vaksin campak yang saat ini ada di Indonesia,, yaitu vaksin MR dan vaksin MMR, sedangkan vaksin campak tunggal sudah tidak digunakan lagi. Vaksin MR berisi antigen virus campak dan rubela, sedangkan vaksin MMR ada tambahan virus mumps (gondongan). Vaksin MR sebaiknya diberikan pada anak umur 9 bulan. Vaksin MMR bisa diberikan pada anak yang saat usia 12 bulan belum memperoleh vaksin MR. Booster MR atau MMR diberikan pada anak umur 18 bulan  dan saat berumur 5–7 tahun (dalam program BIAS kelas 1 SD). Jadwal rekomendasi IDAI 2020 ini menggantikan imunisasi campak menjadi imunisasi campak rubella (MR) sesuai dengan program pemerintah mengenai introduksi campak rubella di Indonesia.

 

  1. Imunisasi Japanese Encephalitis (JE)

Japanese Ensefalitis merupakan virus yang menyebabkan radang selaput otak dan banyak terjadi di daerah Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.  Penyakit Japanese Ensefalitis ini dapat dicegah dengan vaksin yang dapat diberikan mulai anak umur 9 bulan. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1 – 2 tahun kemudian

Vaksin Japanese Ensefalitis direkomendasikan terutama di daerah endemis atau anak yang akan bepergian ke daerah endemis. Surveilans JE di Indonesia tahun 2016 menyatakan ada 9 provinsi yang  melaporkan kasus Japanese Ensefalitis, yaitu Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau. Di jadwal imunisasi tahun 2017, imunisasi JE diberikan pada anak usia 12 bulan, sedangkan di dalam jadwal 2020 mulai usia 9 bulan. Perubahan ini sesuai program pemerintah mengenai kampanye dan introduksi imunisasi JE.

 

  1. Imunisasi varisela

Varisela atau disebut juga cacar air merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Varisela-Zoster. Virus varisela-zoster ini sangat menular terutama pada anak yang kekebalan tubuhnya masih lemah. Vaksin varisela dapat diberikan pada anak mulai umur 12–18 bulan dengan 2 kali dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan. Jika anak umur 13 tahun belum divaksin, dapat diberikan vaksin varisela 2 kali dosis dengan interval 4 sampai 6 minggu.

Perbedaan dengan rekomendasi IDAI sebelumnya adalah pada jadwal imunisasi 2017 vaksin varisela diberikan sebanyak 1 kali sedangkan pada jadwal imunisasi 2020 vaksin varisela diberikan sebanyak 2 kali. Menurut penelitian meta analisis, dosis tunggal vaksin varisela dapat mencegah varisela sebesar 81% sedangkan 2 dosis dapat meningkatkan kemanjuran pencegahan sebesar 92%.

 

  1. Imunisasi Hepatitis A

Virus hepatitis A merupakan peyebab penyakit peradangan hati akut. Penularan virus hepatitis A terjadi melalui rute fekal-oral, misalnya karena makan makanan yang tidak higienis. Vaksin hepatitis A dapat diberikan sebanyak 2 dosis mulai umur 1 tahun, kemudian pemberian dosis ke-2 diberikan 6 bulan sampai 12 bulan kemudian. Jadwal ini berbeda dengan rekomendasi IDAI 2017 yang baru memulai vaksin saat anak 2 tahun.

 

  1. Imunisasi Tifoid

Tifoid merupakan penyakit yang menyerang saluran pencernaan yang disebabkan bakteri Salmonella typhii. Penyakit demam tifoid dapat dicegah dengan pemberian Vaksin tifoid polisakarida. Vaksin tifoid polisakarida dapat diberikan pada anak mulai umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. Jadwal imunisasi 2020 untuk tifoid tidak ada perubahan dibanding jadwal imunisasi 2017.

 

  1. Imunisasi Human Papiloma Virus (HPV)

Vaksin HPV berpotensi untuk mengurangi penyakit yang berhubungan dengan infeksi HPV, salah satunya adalah resiko kanker leher rahim pada perempuan. Vaksin HPV mempunyai tingkat kemanjuran 96–98% untuk mencegah kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18. Terdapat dua jenis vaksin HPV yaitu vaksin bivalen (tipe 16 dan 18) dan vaksin quadrivalen (tipe 6, 11, 16 dan 18), keduanya sama-sama direkomendasikan untuk diberikan pada anak perempuan sejak usia >9 tahun.

Jadwal imunisasi human papiloma virus (HPV) adalah vaksin diberikan pada anak perempuan umur 9–14 tahun sebanyak 2 kali dengan jarak 6-15 bulan (atau pada program BIAS kelas 5 dan 6). Jika anak yang berumur >15 tahun belum mendapat vaksin HPV, maka bisa diberikan vaksin HPV sebanyak 3 kali dengan jadwal 0,1,6 bulan (vaksin bivalen) atau 0,2,6 bulan (vaksin quadrivalent).

Jadwal imunisasi 2020 untuk vaksin HPV lebih awal dibandingkan jadwal imunisasi 2017 yang merekomendasikan vaksin HPV diberikan mulai anak usia 10 tahun. Perubahan ini sesuai dengan WHO position paper mengenai HPV. Efek kekebalan tubuh yang dihasilkan dari 2 dosis vaksin HPV pada anak usia 9-14 tahun setara dengan 3 dosis vaksin HPV pada anak perempuan usia 15-24 tahun.

 

  1. Imunisasi Dengue

Masyarakat mengenal infeksi virus dengue sebagai penyakit demam dengue atau demam berdarah dengue. Vaksin dengue hanya dapat diberikan pada anak yang memenuhi syarat berumur antara 9–16 tahun dan memiliki seropositif dengue. Anak dengan seropositif dengue biasanya mempunyai riwayat pernah dirawat dengan diagnosis dengue sebelumnya (dibuktikan dari pemeriksaan antigen NS-1 dan atau uji serologis IgM anti-dengue positif). Jika tidak ada bukti riwayat tersebut, bisa juga dibuktikan dengan cara pemeriksaan serologi IgG anti dengue positif. Syarat ini perlu diperhatikan karena jika vaksin dengue diberikan pada anak yang sama sekali belum pernah terinfeksi dengue (seronegatif), maka kemungkinan menderita dengue di kemudian hari akan lebih berat.

 

Keterangan mengenai perubahan jadwal imunisasi dapat secara ringkas dilihat pada gambar berikut

Gambar 3. Perbandingan Jadwal Rekomendasi IDAI 2017 dan 2020 Part 1

Gambar 3. Perbandingan Jadwal Rekomendasi IDAI 2017 dan 2020 Part 1

Gambar 4. Perbandingan Jadwal Rekomendasi IDAI 2017 dan 2020 Part 2

Gambar 4. Perbandingan Jadwal Rekomendasi IDAI 2017 dan 2020 Part 2

Referensi

  1. , Sitaresmi M.N., Hadinegoro S.R., Kartasasmita C.B., Ismoedijanto, Rusmil K., Siregar S.P., Munasir Z., Prasetyo D., Sarosa G.I. 2020. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun Rekomendasi IDAI tahun 2020. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia
  2. Hartono Gunardi dkk. 2017. Jadwal imunisasi anak usia 0 – 18 tahun rekomendasi IDAI 2017. Sari Pediatri, Vol. 18, No. 5 Tahun 2017
  3. Peraturan Menteri Kesehatan No. 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi