1. Home
  2. »
  3. POSTING
  4. »
  5. JADWAL IMUNISASI VAKSINASI
  6. »
  7. Jadwal Imunisasi Anak...
Gambar 1. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 sampai dengan 24 bulan berdasarkan rekomendasi IDAI tahun 2017

Gambar 1. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 sampai dengan 24 bulan berdasarkan rekomendasi IDAI tahun 2017

Setiap orang tua tentu ingin anaknya selalu sehat dan tumbuh berkembang dengan optimal. Salah satu cara menjaga buah hati supaya tidak mudah sakit adalah dengan cara imunisasi. Namun sebenarnya apakah yang dimaksud imunisasi? Kapan seharusnya kita membawa anak untuk imunisasi? Kenapa beberapa rumah sakit atau klinik punya jadwal imunisasi anak IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)yang berbeda? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita ulas satu per satu.

 

Imunisasi adalah proses memacu sistem kekebalan tubuh dengan cara buatan baik dengan cara vaksinasi (imunisasi aktif) atau dengan memberikan antibodi (imunisasi pasif). Cara yang lazim digunakan sebagai program imunisasi adalah dengan vaksinasi (imunisasi aktif).  Imunisasi aktif memacu sistem kekebalan tubuh untuk membuat antibodi sendiri dan respon kekebalan lainnya yang efektif melawan agen infeksi.

 

Tujuan umum dari program imunisasi adalah menurunkan angka kejadian penyakit, kecacatan, dan kematian akibat penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Jika di suatu daerah memiliki angka cakupan imunisasi yang tinggi, maka daerah tersebut akan memiliki angka kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (vaccine-preventable disease) rendah. Imunisasi juga dilaksanakan dengan tujuan mencegah merebaknya suatu penyakit di suatu daerah (epidemi) di masa yang akan datang.

 

Cakupan imunisasi yang rendah pada generasi sekarang dapat menyebabkan penyakit semakin meluas pada generasi yang akan datang. Namun jika cakupan imunisasi tinggi, bukan tidak mungkin penyakit dapat dimusnahkan (eradikasi) dari muka bumi. Contoh penyakit yang sudah hilang dari muka bumi karena peran imunisasi adalah penyakit cacar (smallpox). Penyakit polio juga dinyatakan hilang dari Indonesia sejak tahun 2004, namun kita tetap waspada karena masih ada beberapa negara yang masih dilaporkan ada kasus polio seperti di Afganista, Pakistan, Nigeria. Keberhasilan program imunisasi ini dapat menghemat biaya kesehatan secara efisien karena angka kejadian penyakit yang rendah otomatis biaya kesehatan yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut pun akan berkurang.

 

Berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian bayi (AKB) 34/1000 kelahiran hidup dan angka kematian balita (AKBA) 44/1000 kelahiran hidup. Hasil survei Riskesdas tahun 2013 didapatkan data cakupan imunisasi HB-0 (79,1%), BCG (87,6%), DPT-HB-3 (75,6%), Polio-4 (77,0%), dan imunisasi campak (82,1%). Cakupan imunisasi ini harus ditingkatkan supaya anak Indonesia terhindar dari PD3I. Maka dari itu Satuan Tugas Imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia telah menerbitkan jadwal imunisasi anak pada tahun 2017. Jadwal imunisasi anak tahun 2017 ini dibuat untuk menggantikan jadwal imunisasi IDAI yang sebelumnya telah ada yaitu pada tahun 2014.

 

Hal yang berbeda dari jadwal imunisasi anak IDAI 2017 ini adalah jadwal imunisasi anak rekomendasi IDAI seragam dengan jadwal imunisasi anak dari Kementerian Kesehatan sehingga mempermudah tenaga kesehatan dalam melaksanakan program imunisasi rutin. Selain itu jadwal imunisasi ini disusun dengan memperhatikan kombinasi vaksin DPT dengan hepatitis B seperti DTPw-HB-Hib, DTPa-HB-Hib-IPV.

 

Saat ini jadwal imunisasi anak mengacu pada rekomendasi imunisasi IDAI 2017. Jika sebelumnya jadwal rekomendasi imunisasi IDAI 2014 menjadwalkan imunisasi pada bulan ke-1, 2, 4, dan 6, maka pada rekomendasi IDAI 2017 imunisasi DPT dijadwalkan pada bulan ke 1, 2, 3, dan 4, sehingga seragam dengan jadwal program imunisasi kementerian kesehatan. Program imunisasi yang baru ditambahkan di jadwal imunisasi 2017 adalah bayi mendapatkan minimal satu dosis vaksin IPV (Inactivated Polio Vaccine) saat pemberian vaksin DPT-3. Tambahan vaksin yang lain adalah:

– Vaksin MMR dapat diberikan saat usia 12 bulan jika anak belum dapat vaksin saat usia 9 bulan

– Vaksin HPV diberikan pada remaja usia 10-13 tahun

– Vaksin Japanese Ensefalitis diberikan untuk anak usia 12 bulan pada daerah endemis

– Vaksin dengue direkomendasikan pada anak usia 9-16 tahun.

 

Jadwal imunisasi ditampilkan dalam bentuk tabel. Kolom warna hijau menunjukkan waktu imunisasi optimal, yaitu imunisasi diberikan sesuai usia yang dianjurkan. Kolom warna kuning menunjukkan waktu imunisasi kejar (catch-up immunization), yaitu imunisasi yang diberikan di luar waktu yang direkomendasikan. Kolom biru menunjukkan imunisasi penguat atau booster. Kolom warna merah muda menunjukkan imunisasi yang direkomendasikan untuk daerah endemis.

Gambar 2. Jadwal Imunisasi Anak IDAI Tahun 2017

Gambar 2. Jadwal Imunisasi Anak IDAI Tahun 2017

Keterangan Tabel

  • Cara membaca kolom usia : misal 2 berarti usia 2 bulan (60 hari) s.d. 2 bulan 29 hari (89 hari)
  • Vaksin rotavirus monovalen tidak perlu dosis ke-3
  • Apabila vaksin HPV diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan
  • Keterangan warna tabel adalah sebagai berikut :

keterangan warna

Untuk memahami tabel jadwal imunisasi anak perlu membaca keterangan tabel

  1. Vaksin hepatitis B (HB) . Menurut jadwal imunisasi IDAI, vaksin HB pertama (monovalent) paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan didahului pemberian suntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya. Jadwal imunisasi lengkap pemberian vaksin HB monovalen adalah usia 0,1, dan 6 bulan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan vaksin HB dan imunoglobin hepatitis B (HBIg) pada ekstrimitas yang berbeda. Apabila diberikan HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal imunisasi lengkap dilakukan pada usia 2,3, dan 4 bulan. Apabila vaksin HB kombinasi dengan DTPa, maka jadwal pemberian pada usia 2,4, dan 6 bulan.
  2. Vaksin polio . Apabila lahir di rumah segera berikan OPV-0. Apabila lahir di sarana kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi dipulangkan. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3, dan polio booster diberikan OPV atau IPV. Paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV bersamaan dengan pemberian OPV-3.
  3. Vaksin BCG . Pemberian vaksin BCG berdasarkan jadwal imunisasi IDAI dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal usia 2 bulan. Apabila diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, perlu dilakukan uji tuberculin.
  4. Vaksin DTP . Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada usia 6 minggu. Dapat diberikan vaksin DTPw atau DTPa atau kombinasi dengan vaksin lain. Apabila diberikan vaksin DTPa maka interval jadwal imunisasi lengkap pemberian vaksin lanjutan tersebut pada usia 2,4, dan 6 bulan. Untuk usia lebih dari 7 bulan diberikan vaksin Td atau Tdap. Untuk DTP 6 dapat diberikan Td/Tdap pada usia 10-12 tahun dan booster Td diberikan setiap 10 tahun.
  5. Vaksin pneumokokus (PCV) . Apabila diberikan pada usia 7-12 bulan, PCV diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; dan pada usia lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster pada usia lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak usia di atas 2 tahun PCV diberikan cukup 1x.
  6. Vaksin rotavirus . Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia ≥ 15 minggu), dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia ≥ 15 minggu), dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 32 minggu.
  7. Vaksin influenza . Berdasarkan jadwal imunisasi IDAI, vaksin influenza diberikan pada usia lebih dari 6 bulan, diulang setiap tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak usia kurang dari 9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6-36 bulan, dosis 0,25 mL. Untuk anak usia 36 bulan atau lebih, dosis 0,5 mL.
  8. Vaksin campak . Vaksin campak kedua (18 bulan) tidak perlu diberikan apabila sudah mendapatkan MMR.
  9. Vaksin MMR/MR . Apabila sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, maka vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Apabila pada usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin MMR/MR.
  10. Vaksin varisela . Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia lebih dari 13 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.
  11. Vaksin human papilloma virus (HPV) . Berdasarkan jadwal imunisasi IDAI, Vaksin HPV diberikan mulai usia 10 tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan; vaksin HPV tetravalent dengan jadwal 0,2,6 bulan. Apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis.
  12. Vaksin Japanese encephalitis (JE). Vaksin JE diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis tersebut. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya.
  13. Vaksin dengue. Diberikan pada usia 9-16 tahun dengan jadwal 0,6, dan 12 bulan.

 

Dari sekian banyak jenis vaksin yang direkomendasikan IDAI, ada beberapa vaksin yang masuk ke dalam program pemerintah dan disubsidi sehingga masyarakat dapat memperoleh vaksin secara gratis. Vaksin yang masuk ke dalam program pemerintah adalah sebagai berikut.

Gambar 3. Sasaran Imunisasi Pada Bayi

Gambar 3. Sasaran Imunisasi Pada Bayi

Jadwal Imunisasi Mana yang Digunakan?

Baik Jadwal imunisasi PPI Kementerian Kesehatan maupun Jadwal Imunisasi  rekomendasi IDAI sama-sama bisa digunakan karena telah mempertimbangkan rentang usia. Beberapa perbedaan jadwal pada rekomendasi IDAI tahun 2014 telah diubah di rekomendasi IDAI tahun 2017 sehingga tidak ada perbedaan jadwal dengan Kementerian Kesehatan. Hanya saja ada beberapa vaksin pada rekomendasi IDAI yang tidak disubsidi oleh pemerintah sehingga orang tua perlu membayar sendiri. Ada beberapa hal juga yang harus mempertimbangkan beberapa hal saat hendak memvaksinkan anak:

  • Keadaan dan riwayat kesehatan anak yang berkaitan dengan kontraindikasi dan Risiko Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Misalnya jika anak sedang demam, maka imunisasi bisa ditunda hingga anak sembuh.
  • Permintaan orangtua, misalnya ada rencana bepergian ke luar kota sehingga menggeser jadwal imunisasi.

 

Bagaimana jika anak terlambat imunisasi?

Beberapa imunisasi masih bisa dikejar (catch up) supaya anak segera mendapat kekebalan. Namun pada beberapa  kasus jika umurnya sudah terlewat jauh, mungkin ada beberapa imunisasi tertentu yang kurang penting, karena kemungkinan tertular semakin kecil, sebagai contoh: vaksin rotavirus. Untuk lebih jelasnya perlu konsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mengejar imunisasi yang terlewatkan.

 

Apakah boleh memvaksin bayi yang lahir prematur?

Semua anak punya hak untuk mendapatkan imunisasi. Namun pada bayi prematur sebaiknya ditunda, vaksin diberikan sesudah bayi tersebut berumur 2 bulan. Untuk lebih jelasnya harap berkonsultasi kepada dokter spesialis anak karena akan disesuaikan untuk masing-masing kondisi anak.

 

Tips n Tricks Sukses Imunisasi Lengkap

Tentu kita ingin berikan yang terbaik untuk buah hati supaya selalu sehat dan optimal tumbuh kembangnya. Begitu pula dalam program imunisasi, pastinya kita ingin anak kita mendapatkan perlindungan dari berbagai macam penyakit. Namun ternyata tidak semua orang tua berhasil memvaksinkan anaknya dengan lengkap. Salah satu penyebab ketidaklengkapan imunisasi ini adalah lupa jadwal karena tidak dicatat atau lupa tidak membawa kartu KMS. Ada pula orang tua yang takut dengan efek samping vaksin misalnya demam, tangan bengkak, bahkan takut dengan informasi tidak benar (hoax) seperti isu autisme, protein babi, konspirasi, dan lain-lain. Kendala yang lain adalah faktor biaya karena ada beberapa vaksin yang harganya relatif mahal dan tidak masuk program subsidi pemerintah. Maka, bagaimana caranya supaya anak kita bisa mendapat imunisasi secara lengkap? Simak tips and tricks berikut:

 

  1. Selalu Bawa Kartu Kontrol Imunisasi (Buku Pink / Kartu Menuju Sehat)

Biasanya fasilitas kesehatan memberikan kartu kontrol imunisasi saat memberikan vaksin pertama kali. Fasilitas kesehatan pemerintah seperti puskesmas dan rumah sakit daerah umumnya mengeluarkan Kartu Menuju Sehat (KMS) yang berisi jadwal imunisasi dari kementerian kesehatan. Beberapa fasilitas kesehatan swasta mengeluarkan kartu kontrol imunisasi versi rekomendasi IDAI. Kartu ini akan diparaf oleh petugas jika anak telah mendapatkan vaksin, sehingga kartu ini bisa dijadikan pengingat jenis imunisasi apa yang sudah dan belum didapat.

  1. Mempersiapkan jika ada efek samping vaksin

Beberapa vaksinasi menimbulkan efek samping baik itu demam maupun nyeri pada lokasi suntikan. Sebaiknya orang tua menanyakan kepada petugas apa saja kemungkinan efek samping tersebut sehingga bisa dilakukan pencegahan atau persiapan. Sebagai contoh, pasca vaksinasi campak biasanya anak akan demam sehingga orang tua perlu dibekali dengan obat penurun demam.

  1. Membuat prioritas anggaran imunisasi

Beberapa vaksin pada program imunisasi dasar pemerintah seperti Polio, Hepatitis-B, BCG, DPT, HiB, dan Campak diberikan secara gratis karena disubsidi oleh pemerintah. Namun ada juga vaksin lain yang sama pentingnya namun tidak disubsidi, seperti Pneumokokus (PCV), influenza, rotavirus. Harga vaksin bervariasi antara Rp 150.000 sampai dengan 1 juta tergantung jenis vaksin dan merknya. Akan lebih ringan jika biaya imunisasi ini dimasukkan ke dalam anggaran rumah tangga sebagai pengeluaran rutin bulanan seperti halnya anggaran untuk belanja makanan, pendidikan, hiburan. Kesehatan merupakan salah satu investasi terbaik untuk masa depan anak, maka tepatlah kiranya untuk menganggarkan biaya imunisasi.

  1. Mencari Informasi dari Sumber yang Valid

Dalam pengambilan keputusan, seringkali kita mencari informasi lebih banyak sebagai bahan pertimbangan misalnya: apakah imunisasi aman? bagaimana jadwal imunisasi? berapa harganya?. Sebaiknya informasi mengenai imunisasi kita tanyakan kepada dokter atau bisa juga browsing di situs resmi seperti situs kementerian kesehatan dan IDAI.

 

Referensi

  1. Hadianti D.N. dkk. 2014. Buku Ajar Imunisasi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
  2. Hartono Gunardi dkk. 2017. Jadwal imunisasi anak usia 0 – 18 tahun rekomendasi IDAI 2017. Sari Pediatri, Vol. 18, No. 5 Tahun 2017
  3. Peraturan Menteri Kesehatan No. 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi
  4. Soedjatmiko, Alan R. Tumbelaka. 2013. Tanya Jawab Jadwal Imunisasi. Buku Pedoman Imunisasi Di Indonesia. IDAI.